ANALISIS AYAT AYAT AL-QUR'AN YANG MENJELASKAN TENTANG MATEMATIKA DAN KALKULUS DIFERENSIAL DAN INTEGRAL / ANALYSIS OF QUR'AN VERSES THAT EXPLAIN ABOUT MATHEMATICS AND DIFFERENTIAL AND INTEGRAL CALCULUS

KELOMPOK :

1. ADITIA (20323060) 

2. GILANG RIZKY F (20323062)

3. JULIA NURZAMZANI (20323020) 

4. M. ZAQI MUBAROK (20323043)

5. PIETER LAURENSIUS (20323051) 



Al-Qur'an memiliki banyak ayat yang secara tidak langsung merujuk ke konsep matematika, termasuk diferensial dan integral yang akan dibahas pada materi teori dan konsep. Berikut adalah beberapa ayat Al-Qur'an yang dapat dihubungkan dengan konsep matematika, meskipun tidak secara langsung membahas topik perbedaan:

1. Al-Baqarah [2:22 dan 29] : 


 الَّذِىۡ جَعَلَ لَـكُمُ الۡاَرۡضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَآءَ بِنَآءً وَّاَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَخۡرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزۡقًا لَّـكُمۡ‌ۚ فَلَا تَجۡعَلُوۡا لِلّٰهِ اَنۡدَادًا وَّاَنۡـتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ

Allazii ja'ala lakumul arda firaashanw wassamaaa'a binaaa 'anw wa anzala minassamaaa'i maaa'an fa akhraja bihii minas samaraati rizqal lakum falaa taj'aluu lillaahi andaadanw wa antum ta'lamuun


“(Dialah) yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui. (Qs. Al-Baqarah 2:22)” 


Tafsir


Sesungguhnya Dialah yang dengan kekuasaan-Nya menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu sehingga layak dan nyaman untuk dihuni, dan menjadikan di atas kamu langit dan benda-benda yang ada padanya sebagai atap, atau sebagai bangunan yang cermat, indah, dan kukuh. Dan Dialah yang menurunkan sebagian dari air, yaitu air hujan, dari langit yang menjadi sumber kehidupan. Lalu Dia hasilkan dengan air itu sebagian dari buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah yang telah menciptakan sedemikian rupa dan telah memberimu rezeki, padahal kamu dengan fitrah kesucian yang ada dalam diri mengetahui bahwa Allah tidak ada yang menyerupai-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang memberi rezeki selain-Nya, maka janganlah kamu menyimpang dari fitrah itu.

Allah swt menerangkan bahwa Dia menciptakan bumi sebagai hamparan dan langit sebagai atap, menurunkan air hujan, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan menjadikan tumbuh-tumbuhan itu berbuah. Semuanya diciptakan Allah untuk manusia, agar manusia memperhatikan proses penciptaan itu, merenungkan, mempelajari dan mengolahnya sehingga bermanfaat bagi manusia dan kemanusiaan sesuai dengan yang telah diturunkan Allah. Dengan jelas Allah menerangkan dalam ayat ini terutama pada bagian yang mengungkapkan Dan Dialah yang menurunkan air (hujan) dari langit lalu Dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan.


Dengan terang Allah menyebutkan bumi, langit dan benda-benda langit, seperti matahari dan bintang-bintang adalah ciptaan Allah yang merupakan satu kesatuan dan semuanya diatur dengan satu kesatuan sistem yang dalam ilmu pengetahuan modern disebut ekosistem. Selama belum dirusak oleh tangan-tangan manusia yang memperturutkan hawa nafsunya, semua berjalan dengan tertib dan teratur.


Laut yang luas yang disinari panas matahari kemudian menyebabkan uap air yang banyak. Uap air ini naik ke atas menjadi awan dan mendung, kemudian disebarkan oleh angin ke seluruh permukaan bumi, sehingga uap air yang banyak sekali ini di atas gunung-gunung menjadi dingin dan kemudian menjadi titik-titik dan menjadi hujan dapat mengairi permukaan bumi yang luas, bukan hanya timbul hujan di atas laut, tetapi juga di darat, karena bantuan angin yang menyebarkannya.


Disebabkan hujan yang turun dari langit itu kemudian bumi menjadi subur, berbagai tanaman buah, sayur, biji-bijian serta ubi dan sebagainya tumbuh dan memberikan banyak manfaat bagi manusia dan semua makhluk di bumi. Di samping itu, turunnya hujan juga menimbulkan sungai, danau dan sumur terisi air serta memperluas kesuburan bumi. Hutan yang lebat juga membantu menyalurkan air dalam bumi, membantu menyalurkan udara segar, menyejukkan udara yang panas dan memelihara kesuburan bumi.


Manusia dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat mengetahui kapan banyak turun hujan dan kapan jarang hujan atau bahkan sama sekali tidak ada hujan, berdasarkan letak bintang di langit maupun peredaran angin. Juga dapat diketahui di mana berkumpulnya ikan-ikan di laut yang banyak sekali jenis dan ragamnya, bahkan ke mana burung-burung pergi pada musim-musim tertentu dapat diketahuinya.


Berikut penjelasan saintis/ilmuan tentang langit sebagai atap: Atap untuk sebuah bangunan terutama diperlukan agar penghuni yang tinggal di dalamnya terhindar dari hujan dan panas matahari. Dalam konteks ayat di atas langit sebagai atap adalah perumpamaan yang ditujukan untuk bumi tempat kita hidup.


Setiap saat, bumi dihujani benda angkasa yang antara lain adalah meteorit. Akan tetapi, sampai saat ini bumi tidak porak poranda. Hal ini disebabkan bumi diselimuti oleh gas atau udara yang bernama atmosfer. Sebelum sampai ke bumi, meteorid akan terpecah belah dan hancur saat memasuki atmosfer. Sebelum sampai ke atmosfer sinar yang dipancarkan matahari pun memecahkan meteorid yang ada. Radiasi sinar matahari inilah yang dapat meledakkan meteorid dalam perjalanannya ke bumi dan kemudian diserap oleh lapisan ozon. Dengan demikian atmosfer dan lapisan ozon merupakan selubung pengaman atau dengan kata lain boleh disebut sebagai atap bagi bumi. Bumi tidak mungkin dihuni oleh makhluk hidup tanpa adanya atap tersebut. Ayat lain yang menyatakan hal yang sama adalah al-Anbiya'/21: 32 yang artinya:


Dan Kami menjadikan langit sebagai atap yang terpelihara, namun mereka tetap berpaling dari tanda-tanda (kebesaran Allah) itu (matahari, bulan, angin, awan dan lain-lainnya). (al-Anbiya'/21: 32)


Tebal atmosfer mencapai 560 kilometer, diukur dari permukaan bumi. Penelitian mengenai atmosfer dimulai dengan menggunakan fenomena alam yang dapat dilihat dari bumi, seperti warna-warna indah saat matahari terbit dan terbenam, dan kilapan cahaya bintang. Dalam tahun-tahun belakangan ini, dengan menggunakan peralatan canggih yang ditaruh dalam satelit di luar angkasa, kita dapat mengerti lebih baik mengenai atmosfer dan fungsinya untuk bumi.


Secara keseluruhan, dapat dikatakan bahwa kehidupan di bumi didukung oleh tiga hal, yaitu adanya atmosfer, adanya energi yang datang dari sinar matahari, dan hadirnya medan magnet bumi.


Atmosfer diketahui menyerap sebagian besar energi sinar matahari, mendaur ulang air dan beberapa komponen kimia lainnya, dan bekerjasama dengan muatan listrik dan magnet yang ada untuk menghasilkan cuaca yang nyaman. Atmosfer juga melindungi kehidupan bumi dari ruang angkasa yang hampa udara dan bersuhu rendah.


Atmosfer terdiri atas lapisan-lapisan gas yang berbeda-beda. Empat lapisan dapat dibedakan berdasarkan perbedaan suhu, perbedaan komposisi bahan kimia, pergerakan-pergerakan bahan kimia di dalamnya, dan perbedaan kepadatan udara. Keempat lapisan tersebut adalah Troposfer, Stratosfer, Mesosfer, dan Thermosfer, atau dapat pula dibagi menjadi tujuh seperti yang dijelaskan pada al-Baqarah/2: 29.


Komposisi gas di atmosfer terutama terdiri atas nitrogen (78%), oksigen (21%) dan argon (1%). Beberapa komponen yang sangat berpengaruh pada iklim dan cuaca juga hadir, meski dalam jumlah yang sangat kecil seperti uap air (0,25%), karbondioksida (0,036%) dan ozone (0,015%) Perihal angin, awan dan air hujan


Hubungan angin dan awan yang kemudian menghasilkan hujan dapat dijelaskan dengan melihat pada siklus air. Siklus air berlangsung mulai penguapan air laut yang membubung ke atas menjadi awan lalu turun ke bumi dalam bentuk tetes air hujan, kemudian air yang turun dalam bentuk hujan itu kembali lagi ke laut melalui sungai dan air bawah tanah. Al-Qur'an tidak menyebut secara rinci siklus air seperti itu, akan tetapi, banyak ayat yang menjelaskan beberapa bagian dari proses keseluruhannya secara sangat akurat. Antara lain dua ayat di bawah ini.


Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang Dia kehendaki, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila Dia menurunkannya kepada kepada hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki tiba-tiba mereka gembira. (ar-Rum/30: 48)


Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya, dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki dan dihindarkan-Nya dari siapa yang Dia kehendaki. Kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan. (an-Nur/24: 43)


Kedua ayat di atas menggambarkan tahapan-tahapan pembentukan awan yang menghasilkan hujan, yang dalam gilirannya, merupakan salah satu tahap dalam siklus air. Dengan melihat lebih cermat kedua ayat di atas maka tampak nyata adanya dua fenomena. Pertama adalah penyebaran awan dan lainnya adalah penyatuan awan. Dua proses yang berlawanan terjadi sehingga awan hujan dapat dibentuk. Dua proses yang disebutkan dalam Al-Qur'an ini baru ditemukan oleh ilmu meteorologi modern sekitar 200 tahun yang lalu.


Ada dua tipe awan yang dapat menghasilkan hujan. Keduanya dapat diklasifikasikan berdasarkan bentuknya, yaitu stratus (tipe berlapis) dan cumulus (tipe menumpuk).


Pada tipe awan yang berlapis, dua tahapan penting yang terjadi adalah tahap awan tipe stratus dan nimbostratus (nimbo artinya hujan). Ayat pertama di atas (ar-Rum/30: 48), secara sangat jelas memberikan informasi mengenai formasi awan yang berlapis. Tipe awan semacam itu hanya akan terbentuk dalam kondisi angin yang bertiup secara bertahap dan secara perlahan menaikan awan ke atas. Selanjutnya, awan tersebut akan berbentuk seperti lapisan-lapisan yang melebar ("Allah-lah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit.....").


Apabila kondisinya cocok, (antara lain jika suhu cukup rendah dan kadar air cukup tinggi) maka butir-butir air akan menyatu dan menjadi butiran-butiran air yang lebih besar. Kita dapat melihat proses tersebut sebagai menghitamnya awan. Dalam terjemahan Quraish Shihab, bagian ini disebutkan sebagai: "......dan menjadikannya bergumpal-gumpal....". Namun dalam terjemahan Al-Qur'an dalam bahasa Inggris, bagian ini diterjemahkan sebagai: ".... and makes them dark...". Akhirnya, butiran air hujan akan jatuh dari awan: ".....lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya....".


Tipe awan yang kedua yang dapat menghasilkan hujan adalah tipe awan yang bertumpuk-tumpuk. Awan ini terbagi berdasarkan bentuknya dalam beberapa nama, yaitu cumulus, cumulonimbus dan stratocumulus. Awan ini ditandai oleh bentuknya yang bergumpal-gumpal dan saling bertumpuk. Cumulus dan cumulonimbus adalah tipe awan yang bergumpal-gumpal, sedangkan stratocumulus tidak bergumpal, sedikit menipis dan melebar. Ayat kedua (an-Nur/24: 43) menjelaskan pembentukan tipe awan ini.

Awan tipe ini dibentuk oleh angin keras yang mengarah ke atas dan ke bawah ("....bahwa Allah menggerakkan awan..."). Dalam terjemahan Al-Qur'an bahasa Inggris, bagian ayat ini diterjemahkan sebagai: "...drives clouds with force...". Mendorong awan dengan kuat. Ketika gumpalan awan terjadi, mereka menyatu menjadi gumpalan awan raksasa, bertumpuk-tumpuk satu sama lain. Pada titik ini, awan cumulus atau cumulonimbus sudah dapat menghasilkan air hujan.

Kalimat selanjutnya dari ayat ini, nampaknya menggambarkan secara khusus terjadinya cumulonimbus, suatu keadaan awan yang dikenal dengan nama awan badai. Tumpukan gumpalan awan yang menjulang ke atas ini apabila di lihat dari bawah mirip dengan bentuk gunung. Dengan menjulang tinggi ke angkasa maka butir air yang sudah terbentuk akan membeku menjadi butiran es ("..... .lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau melihat hujan keluar dari celah-celahnya, dan Dia (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung...."), Awan cumulonimbus juga menghasilkan ciptaan Tuhan yang sangat berharga, yaitu halilintar ("...kilauan kilatnya hampir-hampir menghilangkan penglihatan.")

Ayat lain yang terkait dengan siklus air yang bertalian dengan tahap lain di luar hujan adalah Surah Gafir/23: 18 yang artinya sebagai berikut:

Dan Kami turunkan air dari langit dengan suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan pasti Kami berkuasa melenyapkannya. (Gafir /23: 18)

Ayat ini menyatakan dengan jelas bahwa air hujan diserap oleh tanah tapi tidak hilang. Artinya air tanah masih dapat dialirkan. Dua ayat di bawah ini juga menggambarkan cara aliran air, yaitu aliran permukaan (ar-Ra'd/13: 17) dan aliran air tanah (az-Zumar/39: 21) yang artinya demikian:

Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah ia (air) di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti (buih arus) itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan tentang yang benar dan yang batil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada gunanya; tetapi yang bermanfaat bagi manusia, akan tetap ada di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan. (ar-Ra'd/13 : 17)

Apakah engkau tidak memperhatikan, bahwa Allah menurunkan air dari langit, lalu diatur-Nya menjadi sumber-sumber air di bumi, kemudian dengan air itu ditumbuhkannya “tanaman tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian dijadikan-Nya hancur, berderai-derai. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi yang mempunyai akal sehat. (az-Zumar/39: 21)

Banyak ayat lainnya dalam Al-Qur'an yang membicarakan mengenai siklus air, seperti Gafir /40:13; al-Mu'minūn /23: 18; al-Furqan/25: 48; al-'Ankabut/29: 63, dan lainnya. Semua ayat-ayat tersebut menyatakan hal yang bersinggungan dengan berbagai ayat yang diacu di muka. Beberapa ayat lainnya juga berbicara mengenai air, namun dengan konteks yang berbeda, seperti yang dapat dilihat dalam surah al-Waqi'ah/56: 68-70 yang artinya:

Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Kamukah yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan? Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami menjadikannya asin. Mengapa kamu tidak bersyukur? (al-Waqi'ah/56: 68-70)

Ayat yang berupa kalimat pertanyaan ini menekankan akan ketidak berdayaan manusia dalam mimpi yang paling tua yaitu mengontrol hujan. Fakta memperlihatkan bahwa hujan buatan tidak akan dapat diadakan apabila awan dengan kondisi tertentu tidak tersedia. Awan tersebut harus memiliki berbagai partikel dalam kadar tertentu, kadar air yang tinggi yang dibawa angin yang naik ke atas, dan terdapat perkembangan tumpukan awan yang mengarah ke atas. Apabila semua karakter ini terdapat pada awan tersebut, barulah hujan buatan dapat dilaksanakan. Akan tetapi, para ahli meteorologi masih mempertanyakan efektivitas cara ini.

Ayat yang berkenaan dengan siklus air selanjutnya adalah ayat yang menjelaskan mengenai sungai-sungai besar dan lautan.

Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar dan segar dan yang lain asin lagi pahit, dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang tidak tertembus. (al-Furqan/25: 53)

Deskripsi sungai besar, muara sungai besar dan laut diwartakan dalam bentuk rasa airnya oleh ayat di atas. Di muara sungai atau estuari, terjadi penggabungan air tawar dan air asin. Namun cara bercampurnya sangat unik. Air tawar yang ditumpahkan ke laut akan tetap tawar sampai jauh ke tengah laut, sebelum benar-benar bercampur dengan air asin. Percampuran terjadi jauh dari mulut sungai di tengah laut.

Satu ayat lagi terkait (tidak langsung) dengan turunnya hujan adalah at-tur/52: 44 yang artinya:

Dan jika mereka melihat gumpalan-gumpalan awan berjatuhan dari langit, mereka berkata: Itu adalah awan yang bergumpal-gumpal. (at-tur /52: 44)

Ayat ini turun untuk menjawab tantangan dari beberapa orang kafir agar Nabi Muhammad menjatuhkan langit di kepala mereka. Mereka menduga bahwa langit adalah lempengan atau kepingan yang menjadi atap dunia. Allah tidak menjawab tantangan mereka di sini dan menjelaskan bahwa mereka hanya akan menemukan awan. Sesuatu yang tidak akan dapat dimengerti oleh mereka pada saat itu.

Orang-orang beriman hanya diperintahkan Allah untuk menjaga konservasi alam ini, karena banyak orang-orang kafir dan durhaka yang menyalahgunakan ilmu pengetahuan untuk merusak alam. Orang beriman sebagai khalifatullah fil ardh bertugas memelihara lingkungan hidup dan memanfaatkannya untuk mencapai kemanfaatan hidup sehingga kesejahteraan dan kebahagiaan dapat dinikmati dan disyukuri oleh setiap manusia. Karena Allah yang memberikan nikmat-nikmat itu, maka manusia wajib menyembah Allah saja.

Allah memberikan semua nikmat itu agar manusia bertakwa dan melaksanakan tugas-tugasnya sebagai seorang hamba Allah.

Tugas-tugas itu dapat dipahami dari firman Allah:

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku. (adz-dzariyat/51: 56)

Allah swt menguji manusia dalam melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya, dengan firman-Nya:

Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. ¦( al-Mulk/67: 2)

Karena manusia telah mengetahui perintah-perintah itu dan mengetahui tentang keesaan dan kekuasaan Allah, maka Allah memberi peringatan, "Janganlah manusia menjadikan tuhan-tuhan yang lain di samping Allah dan jangan mengatakan bahwa Allah berbilang.”


هُوَ الَّذِىۡ خَلَقَ لَـكُمۡ مَّا فِى الۡاَرۡضِ جَمِيۡعًا ثُمَّ اسۡتَوٰۤى اِلَى السَّمَآءِ فَسَوّٰٮهُنَّ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ‌ؕ وَهُوَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيۡمٌ


Huwal lazii khalaqa lakum maa fil ardi jamii'an summas tawaaa ilas samaaa'i fasaw waahunna sab'a samaa waat; wa Huwa bikulli shai'in Aliim


“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Qs. Al-Baqarah 2:29)”


Tafsir

Tuhan yang patut untuk disembah dan ditaati itu Dialah Allah yang menciptakan dan memberikan karunia berupa segala apa yang ada di bumi untuk kemaslahatan-mu, kemudian bersamaan dengan penciptaan bumi dengan segala manfaatnya, kehendak Dia menuju ke penciptaan langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit yang sangat beraturan, baik yang tampak olehmu maupun yang tidak. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. Ilmu Allah mencakup segala ciptaan-Nya.


Ayat ini menegaskan peringatan Allah swt yang tersebut pada ayat-ayat yang lalu yaitu Allah telah menganugerahkan karunia yang besar kepada manusia, menciptakan langit dan bumi untuk manusia, untuk diambil manfaatnya, sehingga manusia dapat menjaga kelangsungan hidupnya dan agar manusia berbakti kepada Allah penciptanya, kepada keluarga dan masyarakat.

Kalimat "Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit" memberi pengertian bahwa Allah menciptakan bumi dan segala isinya untuk manusia, Allah telah menciptakan langit lalu Allah menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:

Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, "Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa." Keduanya menjawab, "Kami datang dengan patuh." (Fussilat/41: 11)


Jadi langit pertama yang diciptakan Allah sebelum menciptakan bumi waktu itu masih berupa asap tebal yang gemulung dan suhunya panas sekali. Keduanya yaitu langit dan bumi. Dipanggil maksudnya ditetapkan ketentuan dan proses pekerjaannya oleh Allah supaya bekerjasama secara sinergi dan mewujudkan alam yang harmonis.


Pada ayat 29 ini dijelaskan bahwa Allah menyempurnakan langit yang satu dan masih berupa asap itu menjadi tujuh langit. Angka tujuh dalam bahasa Arab dapat berarti enam tambah satu, bisa juga berarti banyak sekali lebih sekadar enam tambah satu. Jika kita mengambil arti yang pertama (enam tambah satu) maka berarti Allah menjadikan langit yang tadinya satu lapis menjadi tujuh lapis, atau Allah menjadikan benda langit yang tadinya hanya satu menjadi tujuh benda langit. Tiap-tiap benda langit ini beredar mengelilingi matahari menurut jalannya pada garis edar yang tetap sehingga tidak ada yang berbenturan. Tetapi matahari hanya berputar dan beredar pada garis porosnya saja karena matahari menjadi pusat dalam sistem tata surya ini. Sungguh Allah Mahakaya dan Mahabijaksana mengatur alam yang besar dan luas ini.


Dalam pemahaman astronomi, langit adalah seluruh ruang angkasa semesta, yang di dalamnya ada berbagai benda langit termasuk matahari, bumi, planet-planet, galaksi-galaksi, supercluster, dan sebagainya.


Hal ini dikemukakan oleh Allah di dalam Surah al-Mulk/67: 5, yang artinya:


“¦Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat (langit dunia) dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa Neraka yang menyala-nyala¦(al-Mulk/67: 5)”


Jadi, langit yang berisi bintang-bintang itu memang disebut sebagai langit dunia. Itulah langit yang kita kenal selama ini. Dan itu pula yang dipelajari oleh para ahli astronomi selama ini, yang diduga diameternya sekitar 30 miliar tahun cahaya. Dan mengandung trilyunan benda langit dalam skala tak berhingga.


Namun demikian, ternyata Allah menyebut langit yang demikian besar dan dahsyat itu baru sebagian dari langit dunia, dan mungkin langit pertama. Maka dimanakah letak langit kedua sampai ke tujuh?


Sejauh ini belum ada temuan ilmiah "yang tidak dicari-cari" mengenai hubungan antara angka tujuh dan "langit" yang dalam dunia ilmu pengetahuan dikenal dengan alam semesta. Memang ada beberapa skala benda langit, misalnya pada satu tata-surya (solar system) ada "matahari" (bintang yang menjadi pusat tata-surya yang bersangkutan) dan ada planet beserta satelitnya. Milyaran tatasurya membentuk galaksi. Milyaran galaksi membentuk alam semesta. Ini baru enam, untuk menjadikannya tujuh, bisa saja ditambah dengan dimensi alam semesta, yaitu bahwa seluruh alam ini berisikan sejumlah alam semesta. Jadi ada tujuh dimensi dalam alam, dan ini mungkin yang dimaksud dengan langit yang tujuh lapis. Tetapi masalahnya adalah dalam perjalanan miraj Nabi Muhammad saw, beliau melalui lapis demi lapis dari langit itu secara serial, dari lapis pertama, ke lapis kedua dan seterusnya sampai lapis ketujuh dan akhirnya keluar alam makhluk menuju Sidratil-Muntaha. Jadi lapis demi lapis langit itu seperti kue lapis yang berurutan, dari dalam (lapisan pertama) sampai ke lapisan ketujuh. Kenyataan ini berbeda dengan temuan ilmiah. T. Djamaluddin, salah seorang astronom Indonesia, yang cenderung memahami "tujuh langit" sebagai benda-benda langit yang tak terhitung jumlahnya dan bukan berlapis-lapis. Dalam bahasa Arab, bilangan tujuh biasanya dipakai untuk menggambarkan jumlah yang sangat banyak.


Di sisi lain tujuh langit, kemungkinan adalah tujuh lapisan-lapisan atmosfer yang dekat dengan bumi ini yaitu: (1) Troposphere (Troposfer), (2) Tropopause (Tropopaus), (3) Stratosphere (Stratosfer), (4) Stratopause (Stratopaus), (5) Mesosphere (Mesofer), (6) Mesopause (Mesopause), dan (7) Thermosphere (Termosfer). Pembagian ini berdasarkan temperatur (suhu) tiap-tiap lapis atmosfer dan jaraknya dari permukaan bumi. Lapisan-lapisan tersebut bersifat kokoh dalam pengertian menyeliputi dan melindungi bola bumi kita secara kokoh karena adanya gaya gravitasi bumi. (Lihat pula tafsir ilmiah Surah ar-Ra'd/13: 2, Surah an-Naba'/78: 12.) Dalam tafsir Surah ar-Ra'd/13: 2 dijelaskan pembagian lapisan atmosfer sedikit berbeda dengan yang dijelaskan di sini, dimana Ionosfer dan Eksosfer disatukan dalam Termosfer. Namun apabila pengertian tujuh langit dalam hal ini dikaitkan dengan Mi'raj Nabi Muhammad saw, nampaknya kurang tepat.


Tujuh langit mungkin pula dapat ditafsirkan sebagai Tujuh Dimensi Ruang-Waktu dalam Kaluza-Klein Theory (KKT). Dalam ilmu Fisika terdapat empat (4) Gaya Fundamental yang ada di jagad raya ini, yaitu Gaya Elektromagnetik, Gaya Nuklir Lemah, Gaya Nuklir Kuat, dan Gaya Gravitasi. Jika ke-empat Gaya ini terbentuk dari Ledakan Besar (Big Bang) dari suatu Singularity, maka mestinya ke-empat gaya ini dahulunya 'menyatu sebagai Satu Gaya Tunggal (Grand Unified Force), ini yang dikenal dalam Grand Unified Theory (GUT, Teori Ketersatuan Agung). KKT menjelaskan bahwa untuk dapat menerangkan ketersatuan gaya-gaya yang empat itu, maka adanya geometri ruang-waktu yang kita berada di dalamnya sekarang ini tidaklah cukup. Geometri ruang-waktu yang kita berada di dalamnya sekarang ini hanya mampu menjelaskan sedikit tentang gaya-gaya Elektromagnetik dan dalam beberapa hal Gaya Gravitasi. Untuk bisa menjelaskan keempat gaya tersebut, maka KKT menyatakan harus ada tujuh dimensi ruang-waktu (time-space dimensions) yang lain. Dengan demikian bersama empat dimensi yang sudah dikenal, yaitu: garis, bidang, ruang dan waktu; maka total dimensi ada sebelas dimensi (11 dimensi). Pernyataan ini berbasiskan pada perhitungan Matematika-Fisika. Berbasiskan pada KKT ini para scientists telah mampu pula menghitung 'garis tengah salah satu dimensi ruang-waktu itu, yaitu sebesar 10-32 cm, jadi dimensi itu sangat kecil sekali. Dengan demikian, tidaklah mungkin dengan instrument yang ada sekarang ini kita dapat menembus tujuh dimensi ruang-waktu yang lain itu. Kaluza-Klein Theory telah memberikan gambaran adanya Tujuh Dimensi Ruang-Waktu, yang kesemuanya ini akan mengokohkan geometri jagad-raya dengan empat gaya-gaya fundamentalnya. Mungkinkah tujuh langit tersebut adalah tujuh dimensi ruang-waktu menurut Kaluza-Klein Theory? Wallahu a'lam bis-sawab.

Pada akhir ayat Allah menyebutkan, "Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu", maksudnya bahwa alam semesta ini diatur dengan hukum-hukum Allah, baik benda itu kecil maupun besar, tampak atau tidak tampak. Semuanya diatur, dikuasai dan diketahui oleh Allah.

Ayat ini mengisyaratkan agar manusia menuntut ilmu untuk memikirkan segala macam ciptaan Allah, sehingga dapat menambah iman dan memurnikan ketaatannya kepada Allah.


Kedua Ayat ini membahas tentang ciptaan Allah dan cara-cara-Nya dalam menciptakan dan mengatur alam semesta. Ayat ini dapat dihubungkan dengan konsep matematika dalam menganalisis dan memprediksi pergerakan dan perubahan di alam semesta.



2. Yunus [10:101] : 



قُلِ انْظُرُوۡا مَاذَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ ‌ؕ وَمَا تُغۡنِى الۡاٰيٰتُ وَالنُّذُرُ عَنۡ قَوۡمٍ لَّا يُؤۡمِنُوۡنَ


Qulin zuruu maazaa fissamaawaati wal ard; wa maa tughnil Aayaatu wannuzuru 'an qawmil laa yu'minuun


“Katakanlah, "Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!" Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah) dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman. (Qs Yunus 10:101)” 


Tafsir


Setelah dijelaskan pada ayat sebelumnya bahwa Allah akan menimpakan azab kepada orang yang tidak mau mempergunakan akalnya, lalu pada ayat ini Allah memerintahkan kepada Nabi Muhammad, katakanlah kepada mereka, "Perhatikanlah ciptaan Allah, yaitu apa saja yang ada di langit dan di bumi!" Jika mereka mau menggunakan akal mereka untuk memikirkan tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah, tentu mereka sudah beriman. Namun mereka enggan melakukannya, sehingga tidaklah bermanfaat tanda-tanda kebesaran Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang yang tidak beriman, karena mereka menutup hati mereka untuk menerima kebenaran.

Dalam ayat ini Allah menjelaskan perintah-Nya kepada Rasul-Nya, agar dia menyeru kaumnya untuk memperhatikan dengan mata kepala dan akal mereka segala kejadian di langit dan di bumi. Mereka diperintahkan agar merenungkan keajaiban langit yang penuh dengan bintang-bintang, matahari, dan bulan, keindahan pergantian malam dan siang, air hujan yang turun ke bumi, menghidupkan bumi yang mati, dan menumbuhkan tanam-tanaman dan pohon-pohonan dengan buah-buahan yang beraneka warna rasanya. Hewan-hewan dengan bentuk dan warna yang bermacam-macam hidup di bumi, memberi manfaat yang tidak sedikit bagi manusia. Demikian pula keadaan bumi itu sendiri yang terdiri dari gurun pasir, lembah yang luas, dataran yang subur, samudera yang penuh dengan ikan berbagai jenis, kesemuanya itu tanda keesaan dan kekuasaan Allah, bagi orang yang mau berfikir dan yakin kepada Penciptanya.


Akan tetapi bagi mereka yang tidak percaya akan adanya Pencipta alam ini, karena fitrah insaniahnya tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka kesemua tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah dalam alam ini tidak bermanfaat baginya.


Demikian pula peringatan nabi-nabi kepada mereka tidak mempengaruhi jiwa mereka. Akal dan perasaan mereka tidak mampu mengambil pelajaran dari ayat Allah dan tidak membawa mereka pada keyakinan adanya Allah Yang Maha Esa. Mereka tidak memperoleh pelajaran dari Sunnah Allah pada umat manusia di masa lampau. Sekiranya mereka memperoleh pelajaran dari pada ayat-ayat Allah itu dan dari Sunnah Allah pada umat manusia, tentulah jiwa mereka bersih dan terpelihara dari kotoran dan najis yang mendorong mereka kepada kekafiran dan kesesatan.


Ayat ini membahas tentang benda-benda di langit dan bumi, dan bagaimana benda-benda itu diciptakan oleh Allah. Ayat ini dapat dihubungkan dengan konsep matematika dalam menganalisis dan mempelajari struktur dan fungsi dari objek-objek ini.



3. Luqman [31:20] :



اَلَمۡ تَرَوۡا اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمۡ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الۡاَرۡضِ وَاَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ نِعَمَهٗ ظَاهِرَةً وَّبَاطِنَةً ‌ؕ وَمِنَ النَّاسِ مَنۡ يُّجَادِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيۡرِ عِلۡمٍ وَّلَا هُدًى وَّلَا كِتٰبٍ مُّنِيۡرٍ


Alam taraw annal laaha sakhkhara lakum maa fis sa maawaati wa maa fil ardi wa asbaha 'alaikum ni'amahuu zaahiratanw wa baatinah; wa minan naasi many yujaadilu fil laahi bighayri 'ilminw wa laa hudanw wa laa Kitaabim muniir


“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk (kepentingan)mu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin. Tetapi di antara manusia ada yang membantah tentang (keesaan) Allah tanpa ilmu atau petunjuk dan tanpa Kitab yang memberi penerangan. (Qs. Luqman 31:20)”


Tafsir


Titik berat nasihat-nasihat yang Lukman berikan kepada anaknya adalah larangan berbuat. Melaui ayat ini Allah mengecam mereka yang berlaku syirik padahal di depan matanya terhampar bukti-bukti keesaan-Nya. Tidakkah kamu memperhatikan dengan saksama bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk kepentingan-mu dan memenuhi kebutuhanmu? Dia juga menyempurnakan nikmat-Nya untukmu yang bersifat lahir seperti harta dan jabatan, dan yang bersifat batin seperti ilmu, kesehatan, dan keimanan. Akan tetapi, di antara manusia ada yang membantah tentang risalah Nabi Muhammad, syariat, dan keesaan Allah dengan bantahan tanpa dasar ilmu atau petunjuk yang benar dan tanpa Kitab yang memberi penerangan dan bimbingan menuju kebenaran.

Ayat ini mengingatkan manusia dengan menanyakan apakah mereka tidak memperhatikan tanda-tanda keesaan dan kekuasaan Allah di alam yang luas ini? Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allah-lah yang menundukkan untuk mereka semua yang ada di alam ini, sehingga mereka dapat mengambil manfaat daripadanya. Dialah yang menjadikan matahari bersinar, sehingga siang menjadi terang benderang. Sinar matahari itu dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan yang akan menjadi bahan makanan bagi manusia.


Bulan dan bintang dijadikan-Nya bercahaya, yang dapat menerangi malam yang gelap dan menjadi petunjuk bagi kapal yang mengarungi lautan. Diturunkannya hujan yang membasahi bumi dan menyuburkan tumbuh-tumbuhan, dan airnya untuk minuman manusia dan binatang, dan sebagian air itu disimpan dalam tanah sebagai persiapan musim kemarau. Dia menjadikan aneka ragam barang tambang, gas alam, dan sebagainya, yang semuanya itu dapat diambil manfaatnya oleh manusia. Tidaklah ada yang sanggup menghitung nikmat Allah yang telah dilimpahkan-Nya kepada manusia.


Dari Ibnu 'Abbas r.a., "Saya bertanya kepada Nabi saw, 'Hai Rasulullah, apa makna nikmat lahiriah? Beliau menjawab, 'Budi baik seseorang. Dan nikmat batiniah adalah dia diberi hidayah beragama Islam." (Riwayat al-Baihaqi)


Ada orang yang berpendapat bahwa adh-dhahirah ialah kesehatan dan budi pekerti yang luhur, dan al-bathinah ialah pengetahuan dan akal pikiran. Ada pula yang mengartikan adh-dhahirah dengan semua nikmat Allah yang tampak, seperti harta kekayaan, kemegahan, kecantikan, dan ketaatan, sedang al-bathinah ialah pengetahuan tentang Allah, keyakinan yang baik, pengetahuan tentang hakikat hidup yang sebenarnya, dan sebagainya. Sekalipun terdapat perbedaan tentang arti adh-dhahirah dan al-bathinah itu, namun dapat diambil kesimpulan bahwa keduanya merupakan nikmat-nikmat yang dilimpahkan Allah kepada manusia dan dapat dirasakannya.


Pada akhir ayat ini, Allah memperingatkan bahwa sekalipun Ia telah melimpahkan nikmat yang tidak terhingga kepada manusia, namun masih banyak manusia yang membantah dan mengingkari nikmat-nikmat itu, seperti Nadhar bin haris, Ubay bin Khalaf, dan lain-lain. Mereka membantah bukti yang dikemukakan Al-Qur'an dan seruan Nabi dengan tidak berdasarkan pada ilmu pengetahuan, hujah yang benar, dan wahyu dan kitab yang diturunkan Allah.


Ayat ini membahas tentang bagaimana Allah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan bagi manusia dan bagaimana manusia harus menghargai dan menghormati Allah dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan yang diberikan-Nya. Ayat ini bisa dihubungkan dengan konsep matematika dalam menganalisis dan memahami hubungan antara manusia dan alam semesta


4. Al-Fajr [89:2-3] : 


وَلَيَالٍ عَشۡرٍۙ


Wa layaalin 'ashr


“demi malam yang sepuluh. (Qs. Al- Fajr 89:2)"


Tafsir


Demi malam yang sepuluh, yaitu sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Mereka yang beramal saleh pada hari-hari tersebut akan mendapat pahala yang sangat agung.


Berikutnya Allah bersumpah dengan "malam yang sepuluh". Yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Zulhijah, yang merupakan hari-hari yang sangat dimuliakan beramal pada hari-hari tersebut, sebagaimana diinformasikan hadis berikut:


Tidak ada hari apa pun berbuat baik lebih dicintai Allah padanya daripada hari-hari ini. (Riwayat al-Bukhari dari Ibnu 'Abbas)


Akan tetapi, ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama bulan Muharram, atau sepuluh hari pertama bulan Ramadan, atau sepuluh hari pertama setiap bulan. 


وَّالشَّفۡعِ وَالۡوَتۡرِۙ‏


Wash shaf'i wal watr


“demi yang genap dan yang ganjil, (Qs. Al-Fajr 89:3)”


Tafsir


Demi yang genap dan yang ganjil dari semua hal. Bisa juga dipahami bahwa yang genap itu adalah makhluk Allah, sedangkan yang ganjil adalah Allah. Dia Maha Esa dan tanpa bandingan. Allah tidak membutuhkan apa dan siapa pun, sedang makhluk sangat bergantung pada yang lain.


Berikutnya lagi Allah bersumpah dengan "yang genap dan yang ganjil". "Yang genap adalah yaumun-nahr di atas, yaitu tanggal 10 Zulhijah, dan "yang ganjil" adalah hari 'Arafah, yaitu tanggal 9 Zulhijah. Itu adalah hari-hari yang dimuliakan juga. Tanggal 9 Zulhijah adalah hari wukuf di 'Arafah, yaitu hari dimulainya ibadah haji, dan tanggal 10 Zulhijah adalah hari mulai penyembelihan hewan kurban.


Ayat ini membahas tentang perbedaan antara malam dan siang, yang bisa dihubungkan dengan konsep matematika dalam memahami dan menghitung waktu.


5. Ali-Imran [3:130] dan An-Nisa [4:29] : 



يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡكُلُوا الرِّبٰٓوا اَضۡعَافًا مُّضٰعَفَةً ‌ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ‌ۚ


Yaaa ayyuhal laziina aamanuu la taakuhur ribaaa ad'aafam mudaa'afatanw wattaqul laaha la'allakum tuflihuun


“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (Qs. Ali-Imran 3:130)”


Tafsir


Kaum kafir membiayai perang, termasuk Perang Uhud, dengan harta yang mereka peroleh dengan cara riba. Oleh karena itu Allah mengingatkan, "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu memakan riba, yaitu mengambil nilai tambah dari pihak yang berutang dengan berlipat ganda sebagaimana yang terjadi pada masyarakat Jahiliah, maupun penambahan dari pokok harta walau tidak berlipat ganda, dan bertakwalah kepada Allah, antara lain dengan meninggalkan riba, agar kamu beruntung di dunia dan di akhirat (Lihat: Surah al-Baqarah/2: 279).

Ayat ini adalah yang pertama diturunkan tentang haramnya riba. Ayat-ayat mengenai haramnya riba dalam Surah al-Baqarah ayat 275, 276 dan 278 diturunkan sesudah ayat ini. Riba dalam ayat ini, ialah riba nasiah yang juga disebut riba jahiliah yang biasa dilakukan orang pada masa itu.


Ibnu Jarir berkata, "bahwa yang dimaksud Allah dalam ayat ini ialah: Hai, orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, janganlah kamu memakan riba berlipat ganda, sebagaimana kamu lakukan pada masa jahiliah sesudah kamu masuk Islam, padahal kamu telah diberi petunjuk oleh-Nya." Pada masa itu bila seseorang meminjam uang sebagaimana disepakati waktu meminjam, maka orang yang punya uang menuntut agar utang itu dilunasi menurut waktu yang dijanjikan. Orang yang berutang (karena belum ada uang untuk membayar) meminta penangguhan dan menjanjikan akan membayar dengan tambahan yang ditentukan. Setiap kali pembayaran tertunda ditambah lagi bunganya. Inilah yang dinamakan riba berlipat ganda, dan Allah melarang, kaum Muslimin melakukan hal yang seperti itu.


Ar-Razi memberikan penjelasan sebagai berikut, "Bila seseorang berutang kepada orang lain sebesar seratus dirham dan telah tiba waktu membayar utang itu sedang orang yang berutang belum sanggup membayarnya, maka orang yang berpiutang membolehkan penangguhan pembayaran utang itu asal saja yang berutang mau menjadikan utangnya menjadi dua ratus dirham atau dua kali lipat. Kemudian apabila tiba waktu pembayaran tersebut dan yang berutang belum juga sanggup membayarnya, maka pembayaran itu dapat ditangguhkan dengan ketentuan utangnya dilipatgandakan lagi, demikianlah seterusnya sehingga utang itu menjadi bertumpuk-tumpuk. Inilah yang dimaksud dengan kata "berlipat ganda" dalam firman Allah. Riba semacam ini dinamakan juga riba nasiah karena adanya penangguhan dalam pembayaran bukan tunai.


Selain riba nasiah ada pula riba yang dinamakan riba fadhal yaitu menukar barang dengan barang yang sejenis sedang mutunya berlainan, umpamanya menukar 1 liter beras yang mutunya tinggi dengan 1½ liter beras yang bermutu rendah. Haramnya riba fadal ini, didasarkan pada hadis-hadis Rasul, dan hanya berlaku pada emas, perak dan makanan-makanan pokok, atau yang diistilahkan dengan "barang-barang ribawi."


Karena beratnya hukum riba ini dan amat besar bahayanya maka Allah memerintahkan kepada kaum Muslimin agar menjauhi riba dan selalu memelihara diri dan bertakwa kepada Allah agar jangan terperosok ke dalamnya dan agar mereka dapat hidup berbahagia dan beruntung di dunia dan di akhirat.


يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡكُلُوۡۤا اَمۡوَالَـكُمۡ بَيۡنَكُمۡ بِالۡبَاطِلِ اِلَّاۤ اَنۡ تَكُوۡنَ تِجَارَةً عَنۡ تَرَاضٍ مِّنۡكُمۡ‌ ۚ وَلَا تَقۡتُلُوۡۤا اَنۡـفُسَكُمۡ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيۡمًا


Yaaa aiyuhal laziina aamanuu laa taakuluuu amwaalakum bainakum bilbaatili 'illaaa an takuuna tijaaratan 'an taraadim minkum; wa laa taqtuluuu anfusakum; innal laaha kaana bikum Rahiimaa


“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu. (Qs. An-Nissa 4:29)”


Tafsir


Ayat-ayat yang lalu berbicara tentang hukum pernikahan, sementara pernikahan itu tidak bisa dilepaskan dari harta, terutama berkaitan dengan maskawin. Oleh sebab itu, ayat berikut berbicara tentang bagaimana manusia beriman mengelola harta sesuai dengan keridaan Allah. Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah sekali-kali kamu saling memakan atau memperoleh harta di antara sesamamu yang kamu perlukan dalam hidup dengan jalan yang batil, yakni jalan tidak benar yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat, kecuali kamu peroleh harta itu dengan cara yang benar dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu yang tidak melanggar ketentuan syariat. Dan janganlah kamu membunuh dirimu atau membunuh orang lain karena ingin mendapatkan harta. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu dan hamba-hamba-Nya yang beriman.

Ayat ini melarang mengambil harta orang lain dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dengan perniagaan yang berlaku atas dasar kerelaan bersama.


Menurut ulama tafsir, larangan memakan harta orang lain dalam ayat ini mengandung pengertian yang luas dan dalam, antara lain:


  1. Agama Islam mengakui adanya hak milik pribadi yang berhak mendapat perlindungan dan tidak boleh diganggu gugat.

  2. Hak milik pribadi, jika memenuhi nisabnya, wajib dikeluarkan zakatnya dan kewajiban lainnya untuk kepentingan agama, negara dan sebagainya.

  3. Sekalipun seseorang mempunyai harta yang banyak dan banyak pula orang yang memerlukannya dari golongan-golongan yang berhak


menerima zakatnya, tetapi harta orang itu tidak boleh diambil begitu saja tanpa seizin pemiliknya atau tanpa menurut prosedur yang sah.


Mencari harta dibolehkan dengan cara berniaga atau berjual beli dengan dasar kerelaan kedua belah pihak tanpa suatu paksaan. Karena jual beli yang dilakukan secara paksa tidak sah walaupun ada bayaran atau penggantinya. Dalam upaya mendapatkan kekayaan tidak boleh ada unsur zalim kepada orang lain, baik individu atau masyarakat. Tindakan memperoleh harta secara batil, misalnya mencuri, riba, berjudi, korupsi, menipu, berbuat curang, mengurangi timbangan, suap-menyuap, dan sebagainya.


Selanjutnya Allah melarang membunuh diri. Menurut bunyi ayat, yang dilarang dalam ayat ini ialah membunuh diri sendiri, tetapi yang dimaksud ialah membunuh diri sendiri dan membunuh orang lain. Membunuh orang lain berarti membunuh diri sendiri, sebab setiap orang yang membunuh akan dibunuh, sesuai dengan hukum kisas.


Dilarang bunuh diri karena perbuatan itu termasuk perbuatan putus asa, dan orang yang melakukannya adalah orang yang tidak percaya kepada rahmat dan pertolongan Allah.


Kemudian ayat 29 ini diakhiri dengan penjelasan bahwa Allah melarang orang-orang yang beriman memakan harta dengan cara yang batil dan membunuh orang lain, atau bunuh diri. Itu adalah karena kasih sayang Allah kepada hamba-Nya demi kebahagiaan hidup mereka di dunia dan di akhirat.


Ayat ini membahas tentang etika dan moral dalam transaksi ekonomi dan interaksi sosial, yang bisa dihubungkan dengan konsep matematika dalam menganalisis dan memahami sistem ekonomi dan sosial.



Perlu diingat bahwa analisis ini dilakukan dengan hati-hati dan mempertimbangkan berbagai perspektif. Karena Al-Qur'an adalah sumber agama yang sulit untuk diinterpretasikan secara luas, penting untuk selalu Merujuk ke tafsiran yang sah dan menghindari penafsiran yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Meskipun tidak ada ayat Al-Qur'an yang secara langsung membahas perbedaan topik, kita dapat mencari referensi atau interpretasi dari ayat-ayat yang terkait dengan matematika atau filsafat, karena Al-Qur'an sering diartikan sebagai sumber ilmu pengetahuan dan pembelajaran umum.





---------------------------------------------------------------------------




The Qur'an has many verses that indirectly refer to mathematical concepts, including differential and integral which will be discussed in the theoretical and conceptual material. Here are some verses from the Qur'an that can be connected to mathematical concepts, even though they do not directly address the topic of differences:


1. Al-Baqarah [2:22 dan 29] : 


 الَّذِىۡ جَعَلَ لَـكُمُ الۡاَرۡضَ فِرَاشًا وَّالسَّمَآءَ بِنَآءً وَّاَنۡزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَخۡرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزۡقًا لَّـكُمۡ‌ۚ فَلَا تَجۡعَلُوۡا لِلّٰهِ اَنۡدَادًا وَّاَنۡـتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ


Allazii ja'ala lakumul arda firaashanw wassamaaa'a binaaa 'anw wa anzala minassamaaa'i maaa'an fa akhraja bihii minas samaraati rizqal lakum falaa taj'aluu lillaahi andaadanw wa antum ta'lamuun


“(It is He) who made the earth a bed for you and the sky a roof, and He is the One who sends down air (rain) from the sky, then He produces with it (rain) fruits as sustenance for you. Therefore, do not assign rivals to Allah while you know. (Qs. Al-Baqarah 2:22)”


Interpretation


Indeed, it is He who with His power made the earth a space for you so that it is suitable and comfortable to live in, and made above you the sky and the objects on it as a roof, or as a neat, beautiful and strong building. And it is He who sends down some of the water, namely rainwater, from the sky which is the source of life. Then He produced with that water some of the fruit as sustenance for you. Therefore, do not set up any rivals to Allah who has created you in such a way and has given you sustenance, even though you know with the nature of purity within you that there is nothing like Him, there is no partner for Him, and there is no one who is like Him. give sustenance other than Him, so do not deviate from that fitrah.

Allah SWT explains that He created the earth as a bed and the sky as a roof, sent down rainwater, grew plants and made those plants bear fruit. Everything was created by Allah for humans, so that humans would pay attention to the process of creation, reflect, study and process it so that it is beneficial for humans and humanity in accordance with what Allah has revealed. Allah explains clearly in this verse, especially in the part that reveals And it is He who sends down water (rain) from the sky and then He produces fruit with it (rain).


God clearly states that the earth, sky and celestial bodies, such as the sun and stars, are God's creation which is one unit and everything is regulated by one unified system which in modern science is called an ecosystem. As long as it has not been damaged by human hands who follow their desires, everything runs orderly and orderly.


The vast sea that is illuminated by the heat of the sun then causes a lot of water vapor. This water vapor rises upwards to become clouds and clouds, then is spread by the wind throughout the surface of the earth, so that this large amount of water vapor above the mountains becomes cold and then becomes droplets and becomes rain which can irrigate the vast surface of the earth. not only does rain arise over the sea, but also on land, thanks to the help of the wind which spreads it.


Due to the rain that falls from the sky, the earth becomes fertile, various fruit plants, vegetables, grains and sweet potatoes and so on grow and provide many benefits for humans and all creatures on earth. Apart from that, the fall of rain also causes rivers, lakes and wells to fill with water and expands the fertility of the earth. Dense forests also help channel water into the earth, help channel fresh air, cool hot air and maintain the fertility of the earth.


Humans, by utilizing developments in science and technology, can know when it rains a lot and when it rarely rains or even no rain at all, based on the location of the stars in the sky and the circulation of the wind. You can also find out where the fish gather in the sea, of which there are many types and varieties, and you can even find out where the birds go in certain seasons.


The following is a scientist's explanation about the sky as a roof: A roof for a building is primarily needed so that the occupants who live in it are protected from rain and the heat of the sun. In the context of the verse above, the sky as a roof is a parable intended for the earth where we live.


Every moment, the earth is bombarded with celestial bodies, including meteorites. However, until now the earth has not been devastated. This is because the earth is covered by gas or air called the atmosphere. Before reaching Earth, meteoroids will fragment and disintegrate when they enter the atmosphere. Before reaching the atmosphere, the rays emitted by the sun also destroy the existing meteoroids. This solar radiation can explode meteoroids on their way to Earth and then be absorbed by the ozone layer. In this way, the atmosphere and the ozone layer are a safety envelope or in other words, it could be called a roof for the earth. The earth cannot be inhabited by living creatures without a roof. Another verse that states the same thing is al-Anbiya'/21: 32 which means:


And We made the sky a protected roof, but they still turned away from the signs (of Allah's greatness) (the sun, moon, wind, clouds and so on). (al-Anbiya'/21: 32)


The atmosphere is 560 kilometers thick, measured from the earth's surface. Research into the atmosphere began by using natural phenomena that can be seen from the earth, such as the beautiful colors at sunrise and sunset, and the flash of starlight. In recent years, using sophisticated equipment placed on satellites in space, we have been able to better understand the atmosphere and its function on Earth.


Overall, it can be said that life on earth is supported by three things, namely the existence of the atmosphere, the energy that comes from sunlight, and the presence of the earth's magnetic field. 


The atmosphere is known to absorb most of the energy of sunlight, recycle water and some other chemical components, and cooperate with existing electrical and magnetic charges to produce comfortable weather. The atmosphere also protects life on earth from the vacuum and low temperature of outer space.


The atmosphere consists of layers of different gases. The four layers can be distinguished based on differences in temperature, differences in chemical composition, chemical movements within them, and differences in air density. The four layers are the Troposphere, Stratosphere, Mesosphere and Thermosphere, or can also be divided into seven as explained in al-Baqarah/2: 29.


The gas composition in the atmosphere mainly consists of nitrogen (78%), oxygen (21%) and argon (1%). Several components that greatly influence climate and weather are also present, although in very small amounts, such as water vapor (0.25%), carbon dioxide (0.036%) and ozone (0.015%) Regarding wind, clouds and rainwater


The relationship between wind and clouds which then produces rain can be explained by looking at the water cycle. The water cycle takes place starting from the evaporation of sea water which rises up into clouds then falls to the earth in the form of raindrops, then the water that falls in the form of rain returns to the sea through rivers and underground water. The Qur'an does not mention the water cycle in detail as such, however, many verses describe parts of the overall process very accurately. Among other things, the two verses below.


It is Allah who sends the wind, then the wind moves the clouds and Allah spreads them in the sky as He wills, and makes them in lumps, then you see rain coming out of the gaps, then when He sends it down to His servants who He wanted them to suddenly be happy. (ar-Rum/30: 48)


Don't you see that Allah makes the clouds move slowly, then gathers them together, then He makes them pile up, then you see rain coming out of the gaps, and He (also) sends down (grains of) ice from the sky, (namely) from ( clouds are like mountains, so He causes them to fall upon whom He wills and He removes them from whom He wills. The flash of lightning almost made it impossible to see. (an-Nur/24: 43)


The two verses above describe the stages of cloud formation that produce rain, which in turn, is one of the stages in the water cycle. By looking more closely at the two verses above, it is clear that there are two phenomena. One is cloud dispersal and the other is cloud unification. Two opposing processes occur so that rain clouds can form. These two processes mentioned in the Qur'an were only discovered by modern meteorology about 200 years ago.


There are two types of clouds that can produce rain. Both can be classified based on their shape, namely stratus (layered type) and cumulus (stacked type). 


In the layered cloud type, two important stages that occur are the stratus and nimbostratus cloud stages (nimbo means rain). The first verse above (ar-Rum/30: 48), very clearly provides information about layered cloud formations. This type of cloud will only form when the wind blows gradually and slowly lifts the cloud upwards. Furthermore, the cloud will be shaped like expanding layers ("It is Allah who sends the wind, then the wind moves the cloud and Allah spreads it in the sky...").


If the conditions are suitable (for example, if the temperature is low enough and the water content is high enough), the water droplets will unite and become larger water droplets. We can see this process as the blackening of clouds. In Quraish Shihab's translation, this part is stated as: "......and made it lumpy....". However, in the English translation of the Koran, this part is translated as: ".... and makes them dark...". Finally, raindrops will fall from the clouds: ".....then you see the rain coming out of the gaps....".


The second type of cloud that can produce rain is the type of cloud that is piled up. These clouds are divided based on their shape into several names, namely cumulus, cumulonimbus and stratocumulus. These clouds are characterized by their shape being lumpy and stacked on top of each other. Cumulus and cumulonimbus are types of clouds that are clumpy, while stratocumulus is not clumpy, slightly thinning and widening. The second verse (an-Nur/24: 43) explains the formation of this type of cloud.


This type of cloud is formed by strong winds directed upwards and downwards ("....that Allah moves the clouds..."). In the English translation of the Qur'an, this part of the verse is translated as: "...drives clouds with force...". Pushing the clouds firmly. When clouds form, they merge into giant clouds, stacked on top of each other. At this point, cumulus or cumulonimbus clouds can produce rainwater.


The next sentence of this verse seems to describe specifically the occurrence of cumulonimbus, a cloud condition known as a storm cloud. When viewed from below, this pile of clouds towering upwards resembles the shape of a mountain. By rising high into the sky, the water droplets that have formed will freeze into ice droplets ("...... then He made them pile up, then you saw rain coming out of the gaps, and He (also) sent down (the droplets) grains of ice from the sky, (i.e.) from (clumps of clouds such as) mountains..."), Cumulonimbus clouds also produce a very valuable creation of God, namely lightning ("...the flash of lightning almost eliminates vision.")


Another verse related to the water cycle which is related to other stages outside of rain is Surah Gafir/23: 18 which means the following:


And We sent down water from the sky in a measure; then We made the water remain on the earth, and We will surely be able to destroy it. (Gafir /23: 18)


This verse states clearly that rainwater is absorbed by the soil but is not lost. This means that groundwater can still be drained. The two verses below also describe the way water flows, namely surface flow (ar-Ra'd/13: 17) and ground water flow (az-Zumar/39: 21) which means:

 

Allah has sent down water (rain) from the sky, so it (water) flows in the valleys according to their size, then the flow carries floating foam. And from what (metal) they melt in the fire to make jewelry or tools, there is (also) foam like that (current foam). Thus Allah makes a parable about what is true and what is false. As for the foam, it will disappear as nothing; but what is beneficial to humans, will remain on earth. Thus Allah makes a parable. (ar-Ra'd/13 : 17)


Have you not noticed that Allah sends down water from the sky, then He arranges it into water sources on the earth, then with that water He grows "plants of various colors, then He makes them crumble and break apart. Indeed, in that there is a lesson for those who have common sense. (az-Zumar/39: 21)


Many other verses in the Qur'an talk about the water cycle, such as Gafir /40:13; al-Mu'minūn /23: 18; al-Furqan/25: 48; al-'Ankabut/29: 63, and others. All of these verses state things that are tangential to the various verses referred to earlier. Several other verses also talk about water, but in a different context, as can be seen in surah al-Waqi'ah/56: 68-70 which means:


Have you ever paid attention to the water you drink? Were you the one who sent it down from the clouds or were we the one who sent it down? If We had willed, We would have made it salty. Why are you not grateful? (al-Waqi'ah/56: 68-70)


This verse in the form of a question sentence emphasizes human powerlessness in the oldest dream, namely controlling the rain. Facts show that artificial rain cannot occur if clouds with certain conditions are not available. The cloud must have a certain level of various particles, a high water content carried by rising winds, and the development of cloud stacks that point upwards. If all these characters are present in the cloud, then artificial rain can be implemented. However, meteorologists still question the effectiveness of this method.


The next verse relating to the water cycle is the verse that explains large rivers and oceans.


And it is He who allows the two seas to flow (side by side); this one is fresh and salty and the other is salty and bitter, and He has made between them an impenetrable wall and boundary. (al-Furqan/25: 53)


The description of the big river, the mouth of the big river and the sea is conveyed in the form of the taste of the water in the verse above. At the mouth of a river or estuary, fresh water and salt water combine. However, the way it is mixed is very unique. Fresh water that is spilled into the sea will remain fresh until far out to sea, before completely mixing with salt water. Mixing occurs far from the mouth of the river in the middle of the sea.


One more verse related (indirectly) to the fall of rain is at-tur/52: 44 which means:


And when they see clouds falling from the sky, they say: These are lumpy clouds. (at-tur /52: 44)


This verse was revealed to answer a challenge from some unbelievers for the Prophet Muhammad to bring down the sky on their heads. They suspect that the sky is a plate or piece that forms the roof of the world. Allah does not answer their challenge here and explains that they will only find clouds. Something they would not have been able to understand at the time.


Believers are only commanded by Allah to protect nature, because many disbelievers and disobedient people misuse science to destroy nature. Believers as khalifatullah fil ardh are tasked with preserving the living environment and utilizing it to achieve benefits in life so that prosperity and happiness can be enjoyed and grateful for by every human being. Because Allah gives these blessings, humans are obliged to worship Allah alone.


Allah gives all these blessings so that humans will be pious and carry out their duties as servants of Allah.


These duties can be understood from the words of God:


I did not create jinn and humans except that they should worship Me. (adz-dzariyat/51: 56)


Allah SWT tests humans in carrying out the tasks given to them, with His words:


Who created death and life, to test you, which of you is better in deeds. ¦( al-Mulk/67: 2)


Because humans already know these commandments and know about the oneness and power of Allah, Allah warns, "Do not let humans make other gods besides Allah and do not say that Allah speaks.”




هُوَ الَّذِىۡ خَلَقَ لَـكُمۡ مَّا فِى الۡاَرۡضِ جَمِيۡعًا ثُمَّ اسۡتَوٰۤى اِلَى السَّمَآءِ فَسَوّٰٮهُنَّ سَبۡعَ سَمٰوٰتٍ‌ؕ وَهُوَ بِكُلِّ شَىۡءٍ عَلِيۡمٌ


Huwal lazii khalaqa lakum maa fil ardi jamii'an summas tawaaa ilas samaaa'i fasaw waahunna sab'a samaa waat; wa Huwa bikulli shai'in Aliim


“It is He (Allah) who created everything on your earth, then He went to the heavens, then He perfected them into seven heavens. And He is All-Knowing of everything. (Qs. Al-Baqarah 2:29)”


Interpretation


The God who deserves to be worshiped and obeyed is Allah who created and gave gifts in the form of everything on earth for your benefit, then at the same time as creating the earth with all its benefits, His will went to the creation of the heavens, then He perfected them into seven heavens which very regular, both what you see and what you don't. And He is All-Knowing of everything. Allah's knowledge includes all of His creation.


This verse confirms the warning of Allah SWT mentioned in the previous verses, namely that Allah has bestowed great gifts on humans, created the heavens and the earth for humans, to benefit from them, so that humans can maintain the continuity of life and so that humans can be devoted to Allah, their creator, to family and community.


The sentence "He went to the heavens, then He perfected them into seven heavens" means that Allah created the earth and everything in it for humans, Allah created the heavens and then Allah perfected them into seven heavens. This is confirmed in the words of Allah:


Then He went to the sky and (the sky) was still smoke, then He said to it and to the earth, "Come both of you according to My command, obediently or under compulsion." Both answered, "We came obediently." (Fussilat/41:11)


So the first sky that Allah created before creating the earth at that time was still in the form of thick, billowing smoke and the temperature was very hot. These two are heaven and earth. Called means that God has determined the provisions and work processes so that they work together in synergy and create a harmonious nature.


In verse 29 it is explained that Allah perfected the one sky which was still in the form of smoke into seven heavens. The number seven in Arabic can mean six plus one, it can also mean a lot more than just six plus one. If we take the first meaning (six plus one) then it means that Allah made the sky which was previously one layer into seven layers, or Allah made the celestial body which was previously only one into seven celestial bodies. Each of these celestial bodies circulates around the sun according to its path in a fixed orbit so that nothing collides. But the sun only rotates and circulates on its axis because the sun is the center of this solar system. Indeed, Allah is Almighty and All-Wise in governing this great and vast nature.


In the understanding of astronomy, the sky is the entire space of the universe, in which there are various celestial bodies including the sun, earth, planets, galaxies, superclusters, and so on.


This was stated by Allah in Surah al-Mulk/67: 5, which means:


"¦Indeed, We have decorated the near heaven (the sky of the world) with stars, and We have made these stars throwing tools for the devil, and We have prepared for them the burning torment of Hell¦(al-Mulk/67: 5)”


So, the sky containing the stars is indeed called the world sky. That is the sky that we have known so far. And that is what astronomers have studied so far, which is thought to be around 30 billion light years in diameter. And contains trillions of celestial bodies on an infinite scale.


However, it turns out that God said that such a large and powerful sky was only part of the world's sky, and perhaps the first sky. So where are the second to seventh heavens located?


So far there have been no "unsought" scientific findings regarding the relationship between the number seven and the "sky" which in the world of science is known as the universe. Indeed, there are several scales of celestial bodies, for example in one solar system there is a "sun" (the star at the center of the solar system in question) and there are planets and their satellites. Billions of solar systems form galaxies. Billions of galaxies make up the universe. This is only six, to make it seven, the dimensions of the universe could be added, namely that the entire universe contains a number of universes. So there are seven dimensions in nature, and this is probably what is meant by the seven layers of heaven. But the problem is that during the Miraj journey of the Prophet Muhammad saw, he went through layer after layer of the sky in a serial manner, from the first layer, to the second layer and so on until the seventh layer and finally exited the realm of creatures to Sidratil-Muntaha. So layer by layer the sky is like a cake of successive layers, from the inside (first layer) to the seventh layer. This reality is different from scientific findings. T. Djamaluddin, an Indonesian astronomer, tends to understand the "seven heavens" as countless celestial bodies and not layers. In Arabic, the number seven is usually used to describe a very large number. On the other hand, the seven heavens, possibly the seven layers of the atmosphere close to the earth, are: (1) Troposphere (Troposphere), (2) Tropopause (Tropopaus), (3) Stratosphere (Stratosphere), (4) Stratopause (Stratopaus ), (5) Mesosphere (Mesopher), (6) Mesopause (Mesopause), and (7) Thermosphere (Thermosphere). This division is based on the temperature of each layer of the atmosphere and its distance from the earth's surface. These layers are sturdy in the sense that they cover and protect our globe firmly because of the earth's gravitational force. (See also the scientific tafsir of Surah ar-Ra'd/13: 2, Surah an-Naba'/78: 12.) In the tafsir of Surah ar-Ra'd/13: 2, the division of the layers of the atmosphere is explained slightly differently to that explained here , where the Ionosphere and Exosphere are combined in the Thermosphere. However, if the meaning of the seven heavens in this case is related to the Mi'raj of the Prophet Muhammad, it seems inappropriate.


The seven heavens may also be interpreted as the Seven Dimensions of Space-Time in Kaluza-Klein Theory (KKT). In Physics, there are four (4) Fundamental Forces that exist in the universe, namely Electromagnetic Force, Weak Nuclear Force, Strong Nuclear Force and Gravitational Force. If these four forces were formed from the Big Bang from a Singularity, then these four forces should have previously been united as a single force (Grand Unified Force), this is what is known as the Grand Unified Theory (GUT). Great). KKT explained that to be able to explain the unity of the four forces, the space-time geometry that we are currently in is not enough. The geometry of space-time that we are currently in can only explain a little about Electromagnetic forces and in some cases Gravitational Forces. To be able to explain these four forces, the KKT states that there must be seven other time-space dimensions. Thus, along with the four known dimensions, namely: line, plane, space and time; then there are a total of eleven dimensions (11 dimensions). This statement is based on Mathematics-Physics calculations. Based on this KKT, scientists have also been able to calculate the diameter of one of the dimensions of space-time, which is 10-32 cm, so this dimension is very small. Thus, it is impossible with the current instruments that we can penetrate the other seven dimensions of space-time. Kaluza-Klein Theory has provided a description of the existence of Seven Space-Time Dimensions, all of which will strengthen the geometry of the universe with its four fundamental forces. Is it possible that the seven heavens are the seven dimensions of space-time according to Kaluza-Klein Theory? Wallahu a'lam bis-sawab. At the end of the verse, Allah states, "And He knows all things", meaning that the universe is governed by Allah's laws, whether the objects are small or large, visible or invisible. Everything is regulated, controlled and known by Allah.


This verse suggests that humans should seek knowledge to think about all kinds of God's creation, so that they can increase their faith and purify their obedience to God.


These two verses discuss Allah's creation and His ways of creating and organizing the universe. This verse can be connected to mathematical concepts in analyzing and predicting movements and changes in the universe


2. Yunus [10:101] : 



قُلِ انْظُرُوۡا مَاذَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالۡاَرۡضِ ‌ؕ وَمَا تُغۡنِى الۡاٰيٰتُ وَالنُّذُرُ عَنۡ قَوۡمٍ لَّا يُؤۡمِنُوۡنَ


Qulin zuruu maazaa fissamaawaati wal ard; wa maa tughnil Aayaatu wannuzuru 'an qawmil laa yu'minuun


“Say, "Pay attention to what is in the heavens and on the earth!" It is not useful for signs (the greatness of Allah) and messengers who give warnings to people who do not believe. (Qs Yunus 10:101)” 


Interpretation


After explaining in the previous verse that Allah will inflict punishment on people who do not want to use their minds, then in this verse Allah commands the Prophet Muhammad, say to them, "Pay attention to Allah's creation, namely whatever is in the heavens and on earth!" If they want to use their minds to think about the signs of Allah's greatness and power, of course they will already believe. However, they are reluctant to do so, so that the signs of Allah and the apostles who warn those who do not believe are of no use, because they close their hearts to receiving the truth.

In this verse, Allah explains His command to His Messenger, so that he calls his people to pay attention with their eyes and minds to all events in the heavens and on earth. They were instructed to meditate on the wonders of the sky full of stars, sun and moon, the beauty of the change of night and day, the rainwater that falls to the earth, giving life to the dead earth, and growing plants and trees with rich fruit. tastes various colors. Animals with various shapes and colors live on earth, providing many benefits to humans. Likewise, the condition of the earth itself consists of deserts, wide valleys, fertile plains, oceans full of various types of fish, all of which are signs of the oneness and power of Allah, for people who want to think and believe in their Creator.


However, for those who do not believe in the existence of a Creator of this nature, because their human nature does not function as it should, then all the signs of the oneness and power of Allah in this nature are of no use to them.


Likewise, the prophets' warnings to them did not affect their souls. Their minds and feelings are unable to learn lessons from Allah's verses and do not lead them to believe in the existence of Allah Almighty. They do not learn lessons from Allah's Sunnah on mankind in the past. If they had learned lessons from Allah's verses and from Allah's Sunnah for mankind, their souls would have been clean and protected from dirt and impurity that pushed them to disbelief and error.


This verse discusses objects in the heavens and earth, and how these objects were created by Allah. This verse can be related to mathematical concepts in analyzing and studying the structure and function of these objects. 


3. Luqman [31:20] :



اَلَمۡ تَرَوۡا اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمۡ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الۡاَرۡضِ وَاَسۡبَغَ عَلَيۡكُمۡ نِعَمَهٗ ظَاهِرَةً وَّبَاطِنَةً ‌ؕ وَمِنَ النَّاسِ مَنۡ يُّجَادِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيۡرِ عِلۡمٍ وَّلَا هُدًى وَّلَا كِتٰبٍ مُّنِيۡرٍ


Alam taraw annal laaha sakhkhara lakum maa fis sa maawaati wa maa fil ardi wa asbaha 'alaikum ni'amahuu zaahiratanw wa baatinah; wa minan naasi many yujaadilu fil laahi bighayri 'ilminw wa laa hudanw wa laa Kitaabim muniir



“Have you not noticed that Allah has subdued what is in the heavens and what is on the earth for your (benefit) and perfected His blessings for you physically and mentally. But among humans there are those who dispute the (unity) of Allah without knowledge or guidance and without a Book that provides enlightenment. (Qs. Luqman 31:20)”


Interpretation


The emphasis of the advice that Lukman gives to his children is prohibitions on actions. Through this verse, Allah condemns those who practice polytheism even though before their eyes are spread the evidence of His oneness. Have you not taken careful note that Allah has subdued what is in the heavens and what is on the earth for your sake and to meet your needs? He also perfects His blessings for you which are external, such as wealth and position, and internal, such as knowledge, health and faith. However, among humans there are those who dispute the message of the Prophet Muhammad, the Shari'a, and the oneness of Allah with arguments without a basis in knowledge or correct guidance and without a book that provides light and guidance towards the truth.

This verse reminds humans by asking whether they have not paid attention to the signs of Allah's oneness and power in this vast universe? Do they not notice that it is Allah who subjected for them everything in this world, so that they can benefit from it. He is the one who makes the sun shine, so that the day becomes bright. Sunlight can grow plants which will become food for humans.


He made the moon and stars radiant, which could illuminate the dark night and be a guide for ships sailing the seas. He sends down rain which wets the earth and fertilizes the plants, and the water is used for humans and animals to drink, and some of the water is stored in the ground in preparation for the dry season. He produces various kinds of mining goods, natural gas, and so on, all of which can be benefited by humans. No one can count the blessings that Allah has bestowed on humans.


From Ibn 'Abbas r.a., "I asked the Prophet, 'O Rasulullah, what is the meaning of external blessings? He answered, 'A person's good character. And the internal blessing is that he is given Islamic guidance." (History of al-Baihaqi)


There are people who argue that adh-dhahirah is health and noble character, and al-bathinah is knowledge and reason. There are also those who interpret adh-dhahirah as all the visible blessings of Allah, such as wealth, splendor, beauty, and obedience, while al-bathinah is knowledge about Allah, good faith, knowledge of the true nature of life, and so on. Even though there are differences in the meaning of adh-dhahirah and al-bathinah, it can be concluded that both are blessings that Allah bestows on humans and that they can feel.


At the end of this verse, Allah warns that even though He has bestowed unlimited blessings on humans, there are still many people who deny and deny these blessings, such as Nadhar bin Haris, Ubay bin Khalaf, and others. They refute the evidence put forward by the Koran and the Prophet's call without being based on science, correct arguments, and revelations and books sent down by Allah.


This verse discusses how Allah provides everything necessary for humans and how humans must appreciate and respect Allah by utilizing the knowledge He has given. This verse can be connected to mathematical concepts in analyzing and understanding the relationship between humans and the universe


4. Al-Fajr [89:2-3] : 


وَلَيَالٍ عَشۡرٍۙ


Wa layaalin 'ashr



“for ten nights. (Qs. Al-Fajr 89:2)”


Interpretation


By the tenth night, namely the first ten days of the month of Zulhijah. Those who do good deeds on these days will receive a very great reward.


Next, Allah swears by "ten nights". What is meant is the first ten days of the month of Zulhijah, which are days that are highly glorified for doing good deeds on these days, as stated in the following hadith:


There is no day when doing good is more dear to Allah than these days. (Narration of al-Bukhari from Ibn 'Abbas)


However, there are those who think that what is meant is the first ten days of Muharram, or the first ten days of Ramadan, or the first ten days of every month.



وَّالشَّفۡعِ وَالۡوَتۡرِۙ‏


Wash shaf'i wal watr



by the even and the odd, (Qs. Al-Fajr 89:3)”


Interpretation


By the even and the odd of all things. It can also be understood that the even ones are God's creatures, while the odd ones are God. He is Almighty and without comparison. Allah does not need anything or anyone, while creatures are very dependent on others.


Next, Allah swears by "the even and the odd". "The even ones are yaumun-nahr above, namely the 10th of Zulhijah, and the "odd ones" are the days of 'Arafah, namely the 9th of Zulhijah. These are glorified days too. The 9th of Zulhijah is the day of wukuf in 'Arafah, namely the day the Hajj pilgrimage begins, and the 10th of Zulhijah is the day the slaughter of sacrificial animals begins.


This verse discusses the difference between night and day, which can be connected to mathematical concepts in understanding and calculating time


5. Ali-Imran [3:130] dan An-Nisa [4:29] : 



يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡكُلُوا الرِّبٰٓوا اَضۡعَافًا مُّضٰعَفَةً ‌ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ‌ۚ


Yaaa ayyuhal laziina aamanuu la taakuhur ribaaa ad'aafam mudaa'afatanw wattaqul laaha la'allakum

tuflihuun



“O you who believe! Do not eat usury double and fear Allah so that you will be successful. (Qs. Ali-Imran 3:130)”


Interpretation


The infidels financed wars, including the Battle of Uhud, with property they obtained through usury. Therefore, Allah reminds us, "O you who believe! Do not indulge in usury, that is, taking additional value from the debtor in multiples as is the case in the ignorant society, or additions to the principal assets even if it does not double, and be fearful of Allah, among other things, by abandoning usury, so that you will be lucky in this world and in the hereafter (See: Surah al-Baqarah/2: 279).

This verse is the first to be revealed regarding the prohibition of usury. The verses regarding the prohibition of usury in Surah al-Baqarah verses 275, 276 and 278 were revealed after this verse. Usury in this verse is usury nasiah which is also called usury jahiliah which people usually did at that time.


Ibn Jarir said, "that what Allah means in this verse is: O you who believe in Allah and His Messenger, do not consume double usury, as you did in the period of ignorance after you converted to Islam, even though you were given guidance from Him." At that time, if someone borrowed money as agreed at the time of borrowing, the person who had the money demanded that the debt be repaid according to the promised time. The person who owes money (because there is no money to pay yet) asks for a postponement and promises to pay the specified additional amount. Every time the payment is delayed, interest is added. This is what is called double usury, and Allah forbids Muslims from doing something like that.


Ar-Razi gave the following explanation, "If someone owes another person one hundred dirhams and the time has come to pay the debt and the person who owes it is not yet able to pay it, then the person who owes the debt may postpone the payment of the debt as long as the debtor wants to make the debt become two hundred dirhams or double. Then when the time for payment comes and the debtor is not yet able to pay it, then the payment can be postponed provided that the debt is doubled again, and so on until the debt becomes piled up. This is what is meant by the word "doubled." double" in the word of Allah. This kind of usury is also called usury nasiah because there is a delay in non-cash payments.


Apart from usury nasiah, there is also usury called usury fadhal, namely exchanging goods for similar goods of different quality, for example exchanging 1 liter of high quality rice for 1½ liters of low quality rice. The prohibition of fadal usury is based on the hadiths of the Prophet, and only applies to gold, silver and staple foods, or what is termed "usurious goods."


Because of the severity of the law of usury and its great dangers, Allah ordered Muslims to stay away from usury and always take care of themselves and fear Allah so that they do not fall into it and so that they can live happily and fortunately in this world and in the afterlife.


يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا لَا تَاۡكُلُوۡۤا اَمۡوَالَـكُمۡ بَيۡنَكُمۡ بِالۡبَاطِلِ اِلَّاۤ اَنۡ تَكُوۡنَ تِجَارَةً عَنۡ تَرَاضٍ مِّنۡكُمۡ‌ ۚ وَلَا تَقۡتُلُوۡۤا اَنۡـفُسَكُمۡ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمۡ رَحِيۡمًا


Yaaa aiyuhal laziina aamanuu laa taakuluuu amwaalakum bainakum bilbaatili 'illaaa an takuuna tijaaratan 'an taraadim minkum; wa laa taqtuluuu anfusakum; innal laaha kaana bikum Rahiimaa



“O you who believe! Do not devour each other's wealth in a false way, except in trade that is based on mutual consent between you. And don't kill yourself. Indeed, Allah is Most Merciful to you. (Qs. An-Nissa 4:29)”


Interpretation


The previous verses talk about marriage law, while marriage cannot be separated from property, especially with regard to dowry. Therefore, the following verse talks about how believers manage their wealth according to Allah's pleasure. O you who believe! Never eat or obtain wealth from each other that you need in life in a false way, that is, an incorrect way that is not in accordance with the guidance of the Shari'a, unless you obtain the property in the right way in a trade that is based on love. both of you who do not violate the provisions of the Shari'a. And do not kill yourself or kill others because you want to gain wealth. Indeed, Allah is Most Merciful to you and His believing servants.

This verse prohibits taking other people's property through false means, except through business that is based on mutual consent.


According to interpretive scholars, the prohibition on consuming other people's property in this verse contains a broad and deep meaning, including:


  1. The Islamic religion recognizes the existence of private property rights which are entitled to protection and cannot be contested.

  2. Private property rights, if they meet the nisab, must pay zakat and other obligations for the benefit of religion, the state and so on.

  3. Even if someone has a lot of wealth and there are many people who need it from the entitled groups


receive zakat, but the person's property cannot be taken without the owner's permission or without following legal procedures.


Searching for wealth is permitted by trading or buying and selling based on the willingness of both parties without any coercion. Because forced buying and selling is not valid even if there is payment or replacement. In an effort to obtain wealth there must be no elements of injustice towards other people, whether individuals or society. Acts of obtaining property through vanity, for example stealing, usury, gambling, corruption, cheating, cheating, reducing the scale, bribery, and so on.


Furthermore, Allah forbids killing oneself. According to the verse, what is prohibited in this verse is killing oneself, but what is meant is killing oneself and killing other people. Killing another person means killing yourself, because everyone who kills will be killed, according to the law of kisas.


It is forbidden to commit suicide because it is an act of despair, and people who do it are people who do not believe in God's grace and help.


Then verse 29 ends with the explanation that Allah forbids believers from consuming wealth in a false way and killing other people, or committing suicide. That is because of Allah's love for His servants for the happiness of their lives in this world and in the afterlife.


This verse discusses ethics and morals in economic transactions and social interactions, which can be linked to mathematical concepts in analyzing and understanding economic and social systems.


Please keep in mind that this analysis was conducted with caution and considered multiple perspectives. Because the Qur'an is a religious source that is difficult to interpret broadly, it is important to always refer to valid interpretations and avoid interpretations that are not in accordance with Islamic teachings. Although there are no verses in the Qur'an that directly discuss different topics, we can look for references or interpretations of verses related to mathematics or philosophy, because the Qur'an is often interpreted as a source of knowledge and general learning.


Referensi

Reference 


[https://www.mckinleyirvin.com/logout.aspx?returnurl=https://x6qfha10ny22.%D0%BB%D0%B0%D0%BC%D0%B0%D0%BE%D0%BC.%D1%80%D1%84]


[https://kalam.sindonews.com/surah/2/al-baqarah/20]


[https://kalam.sindonews.com/ayat/101/10/yunus-ayat-101]


[https://kalam.sindonews.com/ayat/20/31/luqman-ayat-20]


https://kalam.sindonews.com/ayat/2/89/al-fajr-ayat-2


https://kalam.sindonews.com/ayat/3/89/al-fajr-ayat-3


https://kalam.sindonews.com/ayat/130/3/ali-imran-ayat-130


https://kalam.sindonews.com/ayat/29/4/an-nisa-ayat-29


-------------------------------------------------------------------


{https://digitechuniversity.ac.id/}

{https://instagram.com/ti.digitech?igshid=OGQ5ZDc2ODk2ZA==}

{https://instagram.com/himti.digitechuniversity?igshid=OGQ5ZDc2ODk2ZA==}

-----------------------------------------------------------------------

{https://instagram.com/adit.ia_07?igshid=NzZlODBkYWE4Ng==}


{https://instagram.com/zekk469?igshid=MmVlMjlkMTBhMg%3D%3D&utm_source=qr}


{https://instagram.com/piterlorensius_?igshid=MTk0NTkyODZkYg==}


{https://instagram.com/ijuliiee_?igshid=MTNiYzNiMzkwZA==}


{https://instagram.com/glngrzkyfrmnsyh?igshid=NzZlODBkYWE4Ng==} 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TEORI INTEGRAL

CONTOH SOAL INTEGRAL TENTU